Cakupan ASI eksklusif belum merata, ibu bekerja masih hadapi tantangan
Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam Kelas Orang Tua Hebat yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (2/4/2026). ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN. oleh : Lintang Budiyanti Prameswari
4/7/20261 min read


Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyampaikan cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia yang masih belum merata dan menjadi tantangan tersendiri pada kelompok ibu bekerja.
Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyampaikan, capaian sekaligus tantangan dalam pemberian ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) per Maret 2025, persentase anak usia 0–5 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif mencapai 72,3 persen.
"Jika dilihat berdasarkan status pekerjaan ibu, persentase anak usia 0–5 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif pada ibu bekerja lebih rendah dibandingkan ibu tidak bekerja, yaitu sebesar 68,57 persen berbanding 74,07 persen. Dari data ini, diperlukan peningkatan upaya edukasi dan pendampingan kepada para ibu serta keluarga agar cakupan ASI eksklusif dapat semakin merata di seluruh wilayah Indonesia," ujar dia di Jakarta, Kamis.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam mendukung keberhasilan menyusui. Dukungan ayah dapat merangsang hormon oksitosin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI.
"Pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu," ujar dia.
Isyana juga menegaskan, dukungan terhadap ibu menyusui perlu diperkuat secara menyeluruh, mulai dari lingkungan keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, hingga masyarakat. Penguatan manajemen laktasi juga menjadi penting agar ibu memperoleh informasi, pendampingan, dan dukungan yang memadai sejak masa kehamilan hingga masa menyusui.
Ia juga menambahkan, Kemendukbangga/BKKBN terus mendorong penguatan edukasi pengasuhan dan pemenuhan gizi anak di tingkat keluarga melalui tim pendamping keluarga (TPK) dan penyuluh KB
"Peran TPK, penyuluh KB, serta kader di lapangan sangat penting dalam memastikan setiap keluarga memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mendukung tumbuh kembang anak," tuturnya.
Isyana berharap, melalui edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dari berbagai pihak, pemahaman masyarakat terhadap pentingnya ASI eksklusif dapat semakin meningkat.
